Kisah Ibu Gus Dur

Halo, Mastiners! Kalian pasti mengenal Bapak Abdurrahman Wahid kan? Atau biasa disapa dengan Gus Dur.

Berikut adalah kisah menarik dari Ibunda Gus Dur. Simak selengkapnya yaaaa.

  1. Solichah tumbuh sebagai sosok yang egaliter

enter image description here Rumah tempat Solichah dilahirkan dan dibesarkan (Buku "Ibu Indonesia dalam Kenangan"/Nurinwa Ki S. Hendrowinoto, dkk., 2004)

Solichah, seorang gadis kecil, sering berinteraksi dengan santri dan pengasuh di pesantren. Masa kecilnya dipenuhi dengan keistimewaan. Pada zaman tersebut, masyarakat menganggap kiai beserta keluarganya sebagai pembawa berkah. Itulah yang membuat masa kecil Solichah dipenuhi dengan kasih sayang, bukan hanya dari keluarga, tetapi juga dari santri, teman-teman, dan tetangganya. Bagi Solichah, mencari berkah juga berarti membuat orang lain bahagia.

Pengalaman dan aktivitas di pesantren membentuk kepemimpinan Solichah. Dengan prinsip-prinsip keislaman yang diajarkan kepadanya, ia mampu menjaga martabatnya sendiri tanpa merendahkan orang lain. Solichah bersikap egaliter, tidak memandang latar belakang seseorang dalam bergaul.

Seperti halnya santri perempuan lainnya, Solichah diwajibkan untuk mengenakan pakaian tradisional warisan leluhurnya, yaitu kebaya dengan kain yang menutupi kepalanya. Ia juga dilarang memotong rambutnya pendek seperti gaya nonik dan nyonya Belanda pada masa itu.

Dalam hal seni, karena tinggal di pesantren, Solichah lebih menyukai membaca salawat dan mendengarkan hadrah daripada musik seperti keroncong dan gamelan.

Masa remaja Solichah dipenuhi dengan kegelisahan akibat eskalasi Perang Dunia II. Pada fase ini, ia menyadari betapa pentingnya hidup yang mengutamakan kebahagiaan sejati, yaitu kebahagiaan di akhirat. Solichah melihat bahwa tujuan-tujuan kolonial pada saat itu adalah kebahagiaan dunia yang berorientasi pada harta dan kekuasaan, sehingga mereka selalu merasa kurang.

Suasana inilah yang menciptakan pandangan negatif terhadap pendidikan umum bagi perempuan. Satu-satunya alternatif pendidikan lanjutan bagi perempuan pada saat itu adalah pesantren. Inilah juga sebabnya mengapa Solichah tidak memiliki riwayat pendidikan formal. Masa remajanya dihabiskan untuk mendalami nilai-nilai agama.

  1. Usia pernikahan yang sangat singkat

![enter image description here][2] Sosok Solichah (Buku "Ibu Indonesia dalam Kenangan"/Nurinwa Ki S. Hendrowinoto, dkk., 2004)

Solichah, juga dikenal dengan nama Munawaroh, menikah ketika berusia 14 tahun dengan Abdurrohim, seorang pria yang dipilih oleh Kiai Hasyim Asy'ari, seorang ulama besar dan pendiri Nahdlatul Ulama (NU). Abdurrohim adalah putra dari Kiai Cholil dari Malang.

Pada masa itu, pernikahan melalui sistem perjodohan adalah hal yang umum. Pertimbangan dalam menentukan pasangan hidup bagi anak-anaknya didasarkan pada nasab atau keturunan, bukan harta atau jabatan. Sebagai bentuk ketaatan kepada kiai, Solichah diminta untuk membiarkan kiai tersebut memilihkan calon suami untuknya.

Solichah, tanpa mempertanyakan pilihan yang dibuat oleh Kiai Hasyim, langsung menikah dengan Abdurrohim pada bulan Rajab sekitar tahun 1936. Sayangnya, pada bulan Sya'ban di tahun yang sama, Abdurrohim meninggal dunia. Setelah kehilangan suaminya, Solichah diminta untuk kembali ke Denanyar dan menjalani masa iddah.

  1. Menikah lagi dengan Wahid Hasyim

Setelah beberapa tahun berlalu, Solichah kembali diperkenalkan kepada seorang pria yang memiliki nilai-nilai pesantren yang kuat. Berbeda dengan suaminya sebelumnya, Kiai Bisri kali ini mengizinkan Solichah untuk berkenalan dengan calon suaminya dan memberinya kebebasan untuk memilih. Pria yang akan menikahi Solichah adalah Wahid Hasyim, putra dari Kiai Hasyim Asy'ari.

Wahid dan Solichah bertemu saat menghadiri ta'ziyah atas kematian Nyai Hanifah di Desa Ngeedang, desa tetangga Denanyar. Dari pandangan pertama, Wahid memiliki keberanian untuk mendatangi Kiai Bisri dengan niat melamar Solichah. Solichah, setelah diberitahu oleh ayahnya, hanya diam. Dalam budaya Jawa, ketika seorang perempuan diam ketika ditanya tentang lamaran, itu berarti ia setuju.

Pernikahan mereka diadakan pada tanggal 10 Syawal 1356 Hijriah atau tahun 1938 Masehi. Namun, ada kejadian yang aneh menjelang prosesi pernikahan. Ketika rombongan pengiring telah berkumpul di Pesantren Tebuireng menunggu kedatangan pengantin, ternyata Wahid pergi sendirian dengan mobil ke Denanyar. Saat itu, ia mengenakan kemeja lengan pendek, sarung tanpa sabuk, dan kopiah seperti pakaian salat sehari-hari.

Sementara rombongan pengiring menunggu, mereka mendapatkan kabar bahwa Wahid telah tiba di Denanyar. Rombongan segera berangkat ke Denanyar, tetapi ketika mereka tiba, pesta pernikahan hampir selesai. Solichah menikah dengan Wahid ketika berusia 16 tahun.

Mereka tinggal antara Denanyar dan Tebuireng. Pada awal pernikahan, Solichah sering pergi ke Denanyar untuk mengajar santri perempuan dan adik-adiknya pada hari Jumat. Di Tebuireng, Solichah sibuk mengurus rumah tangga karena pesantren tersebut tidak menerima santri perempuan.

Solichah mengalami tekanan karena mertuanya yang terlalu mengatur, terutama dalam hal makanan. Mertuanya selalu mencicipi makanan yang Solichah masak sebelum disajikan. Solichah mengalami kesulitan dalam beradaptasi dengan budaya keraton yang melekat pada mertuanya.

Dari pernikahan ini, mereka dikaruniai enam anak, empat laki-laki dan dua perempuan. Anak-anak mereka adalah Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, Siti Aisyah, Salahuddin Wahid atau Gus Sholah, Moh Umar, Lily Khadijah, dan M. Hasyim atau Gus Im.

Ketika melahirkan anak pertamanya, Solichah menginginkan agar Gus Dur lahir di Denanyar, mengikuti jejak ibunya. Hal ini memberikan ketenangan psikologis bagi Solichah karena anak pertamanya dibesarkan olehnya sendiri.

enter image description here Foto bersama Solichah bersama dengan anak-anaknya (Buku "Ibu Indonesia dalam Kenangan"/Nurinwa Ki S. Hendrowinoto, dkk., 2004)

  1. Perjuangan sebagai single parent

![enter image description here][5] Solichah mengantarkan putranya Salahuddin Wahid menikah dengan Farida Aifuddin, 8 Februari 1968 (Buku "Ibu Indonesia dalam Kenangan"/Nurinwa Ki S. Hendrowinoto, dkk., 2004)

Perkawinan Solichah dengan Wahid hanya berlangsung selama 15 tahun karena pada 18 April 1953, suaminya meninggal dunia dalam kecelakaan mobil dengan truk dekat Padalarang. Saat itu, Solichah berusia 30 tahun. Ia ditinggalkan bersama lima anak dan satu anak yang masih dalam kandungan.

Pada saat itu, Solichah sudah tinggal di Ibu Kota karena suaminya menjabat sebagai Menteri Agama Republik Indonesia untuk periode 1949-1952. Saat berduka, keluarga meminta Solichah untuk pulang ke Denanyar, namun ia menolak. Keluarga di Denanyar menawarkan agar beberapa anaknya dirawat oleh pamannya, namun ia juga menolak. Solichah tetap bertekad untuk menjaga keutuhan keluarganya dan mendidik anak-anaknya.

Untuk memenuhi kebutuhan hidup, ia menjual semua barang miliknya. Meskipun Solichah adalah janda mantan menteri, suaminya adalah seorang pejuang dan bukan tipe pejabat yang mengumpulkan kekayaan untuk kepentingan pribadi. Solichah bahkan tidak malu menjual beras kepada pegawai Kementerian Agama. Ia juga menjual material bangunan seperti pasir, bambu, dan batu di kawasan Tanjung Priok.

Karier politik Solichah sangat mengesankan. Sejak tahun 1955, ia terpilih sebagai anggota DPRD Jakarta Raya, kemudian menjadi anggota DPRGR, dan mewakili Partai NU dalam DPR pada tahun 1971. Ia terpilih kembali melalui Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dalam pemilihan umum tahun 1977 dan 1982. Karier politiknya berakhir pada tahun 1987 ketika ia pensiun sebagai anggota dewan.

Ketika terjadi peristiwa G-30 S/PKI, Solichah mendengar bahwa banyak tokoh NU muda di Jakarta yang terancam keselamatan mereka. Tanpa ragu, ia menjadikan rumahnya di Taman Matraman Barat No 8 sebagai posko bagi kalangan NU. Selama hampir dua bulan, rumahnya menjadi tempat perlindungan bagi para kader muda NU.

Solichah adalah sosok yang enggan mengeluh dalam situasi yang tidak mendukungnya. Pada suatu waktu, Umar Wahid, yang merupakan seorang dokter, mengeluh tentang tugas beratnya sebagai Direktur RSUD di Koja. Ia merasa frustrasi karena peralatan medis dan manajemen di RSUD Koja tidak sebaik RSUD Pasar Rebo, tempatnya bekerja sebagai wakil direktur, dan RS Persahabatan, tempatnya bekerja sebagai dokter paru-paru.

Atas saran ibunya, Solichah mengingatkan Umar agar tidak menghindari tugas yang telah diberikan kepadanya. Ia juga mengatakan bahwa lebih baik menjadi seorang pemimpin daripada menjadi dokter biasa. Ia berkata, "Itu adalah tantangan yang harus kamu hadapi dan tunjukkan bahwa kamu bisa menghadapi tantangan tersebut dengan menjadikan RS Koja sebagai rumah sakit yang baik."

  1. Solichah meninggal pada 1994

enter image description here Dalam suasana santai dan familiar, Solichah memimpin rapat Muslimat NU (Buku "Ibu Indonesia dalam Kenangan"/Nurinwa Ki S. Hendrowinoto, dkk., 2004)

Dengan kelembutan tangan Solichah, semua anaknya berhasil menjadi tokoh bangsa. Bahkan, anak pertamanya, Gus Dur, menjadi Presiden Keempat Republik Indonesia.

Solichah meninggal dunia pada Jumat, 29 Juli 1994, sekitar pukul 23.00 WIB di RS Cipto Mangunkusumo. Sebelumnya, ia dirawat inap selama 17 hari karena sakit jantung dan diabetes.

Pada hari duka tersebut, lebih dari 20 ribu orang hadir dalam pemakaman di Tebuireng-Jombang. Bukan hanya warga Nahdliyin dan Muslimat NU, tetapi juga pejabat pemerintahan yang datang untuk memberikan penghormatan terakhir. Perempuan yang dikenal sebagai "Ibu Umat" tersebut disemayamkan pada tanggal 30 Juli 1994, sekitar pukul 17.20 WIB.

Sumber: https://jabar.nu.or.id/ngalogat/sosok-ibu-di-mata-gus-dur-giQ1w


Penulis : Ustaz Moch. Yasin, S.Kom., M.Kom., M.B.A.

Editor : Nur Ania Fitrianti


Info PPDB : 0838 4989 8150 (Bu Ani)

Related Posts