Hai, Mastiners... Kita lanjut menjelajahi waktu yuk! Artikel ini adalah lanjutan dari kisah penjanjian Sabdo Palon yang kemarin.

Apakah semua perjanjian tersebut dapat terlaksana dengan baik?
YA, perjanjian tersebut terlaksana dengan sangat baik, sehingga menjadikan nusantara ini menjadi negara Islam terbesar di dunia.
Apakah yang menjadi bukti bahwa perjanjian tersebut telah terealisasi dengan baik? Beberapa bukti kuat atas terlaksananya perjanjian tersebut, antara lain:
Perjanjian pertama, penyebaran agama Islam di Nusantara tidak boleh menggunakan jalan pemaksaan dan kekerasan. Beberapa cara penyebaran agama Islam di nusantara:
- Perdagangan
Media perdagangan adalah tahap paling awal dalam penyebaran agama Islam yang diperkirakan terjadi pada abad ke-7 dari para pedagang Arab, Pesia dan India. Menurut Thome Pires, sekitar Abad ke-7 sampai Abad ke-16 lalu lintas perdagangan yang melalui Indonesia sangatlah ramai. Dalam agama Islam, siapapun bisa sebagai penyebar agama Islam, sehingga hal ini menguntungkan karena para pedagang tersebut dapat menyebarkan agama Islam sambil berdagang. Proses penyebaran ini melibatkan semua kelompok masyarakat dan proses ini dipercepat dengan rutuhnya kerajaan Hindu-Budha di nusantara.
- Perkawinan
Media perkawinan adalah tahapan lanjutan dari media perdagangan. Para pedagang yang datang ke nusantara kelamaan akan menetap dan membentuk perkampungan. Tahap selanjutnya, para pedagang yang menetap ada yang membentuk keluarga dengan penduduk setempat dengan cara menikah, misalnya Raden Rahmat (Sunan Ampel) dengan Nyai Manila. Adapun syarat memeluk Islam yang mudah hanya dengan mengucap syahadat saja mempermudah media ini. Media perkawainan berjalan lancar mengingat akan ada keluarga muslim yang menghasilkan keturunan muslim serta mengundang ketertarikan penduduk lainnya untuk memeluk Islam.
- Pendidikan
Media yang ketiga adalah pendidikan. Dalam penyebaran agama Islam tidak bisa lepas dari perang penting para ulama, kiai dan guru agama. Para tokoh agama inilah yang menyelenggarakan pendidikan Islam melalui pondok pesantren untuk para santri. Dari para santri inilah nantinya Islam akan disosialisasikan di tengah masyarakat. Contoh pesantren yang berdiri pada masa pertumbuhan agama Islam di Jawa adalah Pesantren Sunan Ampel di Surabaya dan Pesantren Sunan Giri di Giri. Lalu terdapat pula para kiai dan ulama yang dijadikan sebagai penasihat serta guru agama di kerajaan kerajaan. Kyai Dukuh adalah guru Maulana Yusuf di Kerajaan Banten dan Syekh Yusuf merupakan penasihat agama Sultan Ageng Tirtayasa di Kerajaan Banten.
- Kesenian
Penyebaran agama Islam melalui media kesenian dapat dilakukan melalui seni bangunan, seni pahat atau ukir, tari, musik, dan sastra. Seni yang paling terkenal adalah seni wayang dan musik. Sunan Kalijaga merupakan salah satu wali yang aktif menyebarkan Islam dengan menggunakan sarana wayang. Untuk seni musik adalah sunan Bonang yang menciptakan lagu “Tombo Ati”. Lalu ada ganding (lagu-lagu) yang berisikan syair nasihat dan dasar dasar agama islam. Pesan-pesan islamisasi juga dilakukan melalui sastra, misalnya kitab primbon pada abad ke-16 M yang disusun oleh Sunan Bonang. Namun kesenian yang telah berkembang sebelumnya tidak musnah, tetapi diperkaya oleh seni Islam yang membentuk sebuah akulturasi.
- Politik
Dalam media politik, kekuasaan raja menjadi peranan utama dalam penyebaran agama Islam. Jika raja memeluk Islam maka otomatis rakyatnya akan mengikuti. Dengan demikian, setelah agama Islam mulai tumbuh di masyarakat, kepentingan politik dilaksanakan melalui perluasan wilayah kerajaan yang diikuti dengan penyebaran agama. Contohnya, Sultan Demak yang mengirimkan pasukannya dibawah Fatahilah untuk menduduki wilayah Jawa Barat dan memerintahkan untuk menyebarkan agama Islam.
Perjanjian kedua, akulturasi antara Islam dengan budaya Jawa dalam pendirian tempat peribadatan. Contoh bentuk akulturasi bagunan yang sekarang masih berkembang antara lain:
- Tradisi Bentuk Makam
Pada masa Hindu, masyarakat tidak memiliki tradisi memakamkan mayat. Masyarakat melakukan tradisi Hindu membakar mayar dan melarung abunya ke laut. Abu dari orang kaya akan disimpan dalam guci dan abu raja akan disimpan dalam sebuah candi.
- Bentuk Nisan
Akulturasi budaya juga dapat dilihat dalam bentuk nisan. Bentuk nisan yang berkembang pada awalnya hanya berbentuk kapal terbalik (lurus) dari Persia. Kemudian, berkembang bentuk lain seperti teratai, keris, dan gunungan wayang yang dipengaruhi kebudayaan Jawa.
- Arsitektur Bangunan Masjid
Banyak terdapat bangunan masjid di Indonesia, seperti Masjid Agung Demak, Masjid Gede Mataram, Masjid Soko Tunggal Kebumen, dan lainnya. Beberapa arsitektur masjid yang dipengaruhi oleh kebudayaan Hindu-Budha dan Barat sebagai berikut:
- Bentuk atap masjid berbentuk kubah Ottoman style dan India style. Tedapat atas bersusun yang bentuknya semakin kecil ke atas serta bagian atas seperti mahkota. Atapnya berjumlah ganjil bilangan tiga atau lima.
- Terdapat bedug sebagai penanda tibanya waktu salat.
- Beberapa masjid seperti Masjid Agung Kudus memiliki atap tumpeng. Sedangkan, Masjid Agung Banten memiliki Menara berbentuk mercusuar.
- Letak masjid bersifat strategis, yaitu terletak berdekatan dengan keraton, pasar, dan alun-alun.
Perjanjian ketiga, kerajaan Islam diperbolehkan berdiri di tanah Jawa. Tapi, raja pertama haruslah anak campuran Salah satu contoh kerajaan yang sesuai dengan perjanjian tersebut adalah Kerajaan Demak yang merupakan kerajaan pertama di pulau Jawa. Raja Demak pertama yaitu Raden Patah yang merupakan keturunan raja Brawijaya V atau raja Majapahit. Ibunya penganut Islam dari Jeumpa. Kerajaan ini mengalami masa kejayaannya pada saat dipimpin oleh sultan Trenggono. Daerah kekuasaan dari kerajaan Demak bahkan sampai ke Banten, Sunda Kelapa dan Cirebon. Kehidupan sosial masyarakat demak diatur sesuai ajaran Islam.
Perjanjian keempat, Orang Jawa harus tetap menjadi Jawa dengan segala budi pekerti dan kepribadian asli orang Jawa. Beberapa contoh tradisi yang merupakan bentuk akulturasi Islam dengan budaya lokal di Nusantara, khususnya di Jawa antara lain:
Tradisi kenduri atau kenduren untuk mendoakan arwah orang yang sudah meninggal dunia. Kenduri ini sudah ada sejak zaman Hindu-Buddha di Jawa. Sunan Ampel menyesuaikan tradisi ini agar tidak menyimpang dari ajaran Islam.
Peralatan untuk memberikan penanda waktu salat bagi umat Islam. Sebelumnya, beduk dipakai sebagai penanda waktu dalam peribadatan umat Buddha.
Wayang juga merupakan salah satu bentuk akulturasi Islam dengan budaya lokal di Jawa. Wayang yang sudah dikenal sejak zaman pra-Islam di Jawa digunakan oleh para Walisongo untuk berdakwah agar mudah diterima oleh masyarakat. Walisongo juga memanfaatkan gamelan untuk menarik minat warga agar menghadiri pengajian sebagai salah satu bentuk syiar Islam.
Tradisi Sekaten di Yogyakarta dan Surakarta.
Arsitektur sejumlah masjid di Jawa yang merupakan perpaduan corak Hindu/Buddha dan Islam.
Tembang-tembang Jawa yang sedikit diubah untuk dakwah, dan lain sebagainya.
SUMBER: Contoh Akulturasi Budaya Masyarakat Nusantara dengan Ajaran Islam (tirto.id)
11 Kerajaan Islam Di Indonesia dan Sejarahnya - DalamIslam.com
Lima Cara Penyebaran Agama Islam di Nusantara (medcom.id)