Menakar Kadar NU dalam Tubuh Indonesia

enter image description here

Oleh: Diah Atika Pramono

Ibarat manusia, Indonesia adalah kerangka tempat melekatnya otot yang membentuk tubuh dan Nahdlatul Ulama (NU) adalah darah yang mengalir sepanjang pembuluh yang terdapat di dalamnya. Memutar kembali ingatan, para kiai dan santri NU adalah para pejuang bangsa yang ikut berkontribusi melahirkan Indonesia merdeka. Didirikan pada 16 Rajab 1344 H/ 31 Januari 1926 oleh Hadratussyeikh KH. M. Hasyim Asy’ari, NU sebagai wadah atas respon kekhawatiran beliau terhadap situasi dan kondisi Indonesia pada masa itu.

Tidak dapat dipungkiri bahwa peran pesantren dalam memberikan pendidikan akhlak dan ilmu pengetahuan sudah berjalan jauh sebelum Indonesia berdaulat. Bahkan, Belanda dibuat kewalahan dengan sistem pengajaran pesantren yang mulai dijalankan. Pemerintah Belanda merasa terancam dengan kehadiran pesantren sebagai basis pengajaran agama.

Sebagai upaya pembatasan kegiatan di pesantren, pada tahun 1905 Belanda pernah mengeluarkan Ordonansi Guru yang berisi tentang prosedur pengawasan kegiatan di pondok pesantren. Peraturan pemerintah Belanda ini mencakup perihal surat izin (semacam sertifikasi untuk guru) yang harus dimiliki oleh seluruh guru sebelum mereka memulai kegiatan pengajaran.

Mbah Hasyim Asy’ari dengan tegas menolak peraturan ini dan mendorong penghapusan kebijakan tersebut. Hingga pada akhirnya, Ordonansi Guru ini tidak berusia panjang dan dinyatakan gagal pada tahun 1928. Penyebabnya adalah banyak daerah yang melakukan penolakan hingga disertai perlawanan, tidak hanya di Jawa dan Madura, namun menyebar luas hingga Pulau Sumatera. Begitulah kegigihan perjuangan Mbah Hasyim bersama para ulama pesantren dari sejumlah organisasi masyarakat Islam dalam mencerdaskan kehidupan bangsa pada masa penjajahan Belanda.

“Tidak ada kebaikan sama sekali dalam suatu bangsa ketika generasinya bodoh-bodoh; dan bangsa tidak akan menjadi baik, maju dan berperadaban kecuali dengan ilmu.” [Muhammad Asad Syahab, Al-‘Allamah Muhammad Hasyim Asy’ari Wadhi’ Lubnah Istiqlal Indunisiya, Cet. I, (Beirut: Darus Shadiq, 1391 H/1971 M), h. 12]. Pesantren tidak hanya sebagai pusat pendidikan ilmu agama, namun juga menanamkan dan mengajarkan sikap tawazzun, tawassuth dan tasammuh (toleransi) dalam rangka mewujudkan integrasi nasional. Pesantren mampu menjadi pasukan yang berani maju paling depan untuk turut mempertahankan persatuan dan kesatuan republik Indonesia. Hal ini dibuktikan dengan meletusnya peristiwa 10 November di Surabaya. Sebagian besar pejuangnya adalah para santri dan kiai yang terus melecutkan semangat untuk maju ke medan perang demi keutuhan bangsa tercinta.

Salah satu pilar utama penyangga pendidikan di Indonesia adalah pesantren. Dewasa ini, eksistensi pesantren sebagai lembaga pendidikan tidak bisa dipandang sebelah mata. Ratusan ribu pesantren telah berdiri, bertumbuh dan terus berkembang, serta mampu mencetak generasi emas yang berkualitas, tidak hanya secara spiritual namun juga unggul dalam ranah intelektual. Bahkan, pola pembelajaran pesantren sudah banyak diadopsi oleh lembaga-lembaga pendidikan non-pesantren dalam rangka pembentukan karakter peserta didiknya.

Indonesia, pesantren, dan NU adalah tiga komponen yang tidak bisa dipisahkan. Sebagian besar pondok pesantren di Indonesia berhaluan Ahlussunnah wal Jamaah yang merupakan napas dari Nahdlatul Ulama. NU merupakan organisasi Islam terbesar di Indonesia. Banyak ulama-ulama NU yang menduduki jabatan-jabatan penting di pemerintahan negara. Bukti bahwa kader-kader NU tidak hanya menguasai ilmu agama, namun juga mampu berkontribusi bagi bangsa. Semboyan yang terus bergema, ditulis berulang-ulang, dan diteriakan berkali-kali adalah, “NU di Hati, NKRI Harga Mati”.

Lantas, jika ditakar sedemikian rupa, berapa persen sebenarnya kadar NU dalam tubuh Indonesia? Seberapa besar pengaruhnya terhadap tatanan bernegara negeri ini?

Jayalah Pesantrenku, Bersinarlah NU! Selamat Hari Lahir ke-96, NU!

Related Posts